Bagi kita yang dahulu sering nonton
TVRI mungkin tidak akan asing mendengar lirik lagu petani yang sering
ditayangkan pada saat akan terjadi pergantian acara. Lagu ini singkat padat dan
penuh dengan makna. Liriknya kurang lebih seperti ini :
Nasi putih terhidang di meja
kita
Santap tiap hari
Beraneka ragam hasil bumi dari
manakah datangnya
Dari sawah dan ladang disana
Petanilah penanamnya
Panas terik tak dirasa, hujan
rintik tak mengapa
Masyarakat butuh bahan pangan
Terima kasih bapak tani
Terima kasih ibu tani
Tugas anda sungguh mulia
Lagu ini menggambarkan sosok petani
yang tidak mengenal lelah pada saat cuaca panas, hujan untuk bercocok tanam di
sawah dan ladang guna menghasilkan bahan pangan untuk dikonsumsi oleh kita.
Sebagai rasa terima kasih kita kepada petani, pernahkan dalam benak kita
terpikir bagaimana nasib petani kita hari ini.
Setiap saya membaca atau mendengar
berita tentang petani tidak selalu menggembirakan malahan sebaliknya selalu
menyedihkan. Mahalnya harga pupuk dan kelangkaan pupuk di musim tanam, harga
eceran gabah lebih rendah dari biaya produksi, atau petani yang terlilit hutang
pada tengkulak. Belum lagi ganguan dari alam seperi hama padi, bencana banjir dan musim kemarau.
Sebagai orang awam saya kadang
bertanya, mengapa pemerintah kita lebih cenderung menjadikan negeri ini sebagai
negeri industri dibandingkan dengan pertanian. Berdirinya pabrik-pabrik telah
menggurangi sebagian lahan pertanian. Bank lebih senang memberikan kredit
kepada industri dan property. Begitupun dengan pendidikan, lebih mengedepankan
kebutuhan industri dibandingkan dengan pertanian. Akibatnya anak-anak sekarang
lebih baik berlumuran oli dibandingkan berlumuran lumpur sawah.
Akibat industriliasi yang tidak
pada tempatnya, lahan-lahan subur berkurang, pencemaran lingkungan bertambah,
hasil panen pun jauh dari yang diharapkan. Akhirnya tanah yang dahulu subur pun
dijual untuk kepentingan industri. Anak-anak kita pun makan beras impor.
Padahal kwalitas beras kita bisa lebih baik apabila kita mau mengelolanya
dengan sungguh-sungguh.
Kita sering mendengar ungkapan
tikus mati di lumbung padi, begitupun dengan para petani kita, sedikit demi
sedikit mulai beralih profesi menjadi juragan kamar-kamar kontrakan karyawan,
calo tanah, pedagang, satpam pabrik, atau buruh pabrik, padahal tanah kita ini
sangat subur Kalau saja pemerintah mau lebih memperhatikan nasib para petani?
Wassalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar